JAKARTA—Saat Juni mengenang Jakarta, hamparan peristiwa pernah terjadi. Ada darah dan semangat. 500 tahun yang lalu, Portugis berhasil direbut oleh Fatahillah. Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan”. Dan kini, kota itu begitu gagah, indah, serta begitu kompleks. Kita pun mengenalnya dengan nama Jakarta.
Satu abad kemudian, Juni juga bersaksi bahwa bangsa ini telah menyiapkan tonggak sejarah baru Negara Indonesia dengan lahirnya Pancasila. Di Jakarta, para pendiri bangsa berkumpul dan menetapkan lima dasar negara yang berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, berpermusyawaratan, dan berkeadilan.
“Djikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak mentekad-mati-matian untuk mentjapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan mendjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya sampai ke achir djaman,” ungkap Soekarno di akhir pidatonya pada 1 Juni 1945.
Semangat kata merebut kota, semangat kata untuk merdeka ini diperteguh oleh awak Sastra Reboan menjadi “Kota Kita: Kata” sebagai tema kegiatan Reboan hari rabu (24/6) mendatang di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan Jakarta Selatan.
