pemutaran film


kepada teman-teman yang baik, dengan senang hati kami mengundang anda untuk datang di:

SEBUAH LIBER AMICORUM

80 Tahun Joesoef Isak

Seorang Wartawan, penulis dan, Penerbit HASTA MITRA,

Hari Minggu 13 Juli, 2008, jam 15.30 s/d selesai

TEATER KECIL, TAMAN ISMAIL MARZUKI

Jl Cikini Raya N0 73, Jakarta-103310

Perayaan ini

Diselenggarakan oleh teman-teman Joesoef Isak

bekerjasama dengan

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta

Acara:

§ Pembacaan Profil ringkas Joesoef Isak

§ Kesan-Kesan dari Sahabat: Hersri Setiawan, Goenawan Moehammad, Sylvia Tiwon, Max Lane, Hilmar Farid dll

§ Screening Film dokumenter pendek tentang Joesoef Isak

§ Penyerahan buku persembahan untuk Joesoef Isak

§ Pentas Kesenian: Paduan Suara Korban 1965; Band Comrade; Sanggar Akar; Pembacaan Puisi oleh Putu Oka dll.

Hormat kami

Panitia Perayaan 80 tahun Berlawan Joesoef Isak

Kontak:

Boni Triyana HH 08157618327

Email:boni_triyana@ yahoo.com

Biografi singkat Joesoef Isak:

(lagi…)

Undangan
Pemutaran film dokumenter ‘Aku Ingin’ karya Tonny Trimarsanto dan diskusi pada:
Sabtu, 7 Juni 2008, pk 19.30 wib
di Dusun Manahan, Jl. Menteri Supeno 20 (barat kolam renang tirtomoyo manahan), Solo
Sinopsis:
Aku Ingin
Sebuah film dokumenter yang mengupas dunia kreatif penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi puisi Sapardi seakan tidak lelah untuk menginspirasi proses penciptaan bentuk bentuk kesenian yang lain. Puisi Sapardi juga begitu akrab dengan dunia keseharian masyarakat kita, karya karyanya menjadi populer dari anak anak SD hingga ibu-ibu rumah tangga. Lantas, seperti apakah proses kreatif yang dijalani Sapardi sebelum menuangkan puisi?
Program ini diselenggarakan oleh:
Rumah Dokumenter, Mataya arts&heritage, dan Dusun Manahan
Tentang Tonny Trimarsanto:
Tonny Trimarsanto, Klaten 1970
winner Best Film, for ” Gerabah Plastik“,at Indonesian Doc Film Festival 2002,
winner Excellent Prize, for ” The Dream Land “, at 12th Earth Vision, Global           Enviroment Documentary Film Festival 2004 Tokyo
Winner BEST ASIA SHORT FILM at 9th CINEMANILA International Film Festival Philipina 2007, dari film “RENITA RENITA”
Film dokumenter panjangnya “SERAMBI” di putar In Competition Selection UN CERTAIN REGARD, 59th CANNES FILM FESTIVAL , In Competition Selection Ibero World  Cinema , 24th Miami International Film Festival ,  Florida US,   In Asia Program , Tokyo International Film Festival, In Competition Selection, Vancouver  International Film Festival, San Fransisco International Film Festival 2008
Film dokumenter “Renita Renita”, diputar masuk kompetisi  film Singapore International Film Festival 2007, DOCNZ New Zaeland , CON CAN Tokyo Film Festival 2007, Amnesty International Film Festival Amsterdam 2008, di Turino Gay Lesbian Transexual Film Festival Italia 2008, dan Roma GLBT Film Festival 2008.

MGR indunisi@yahoo. com

http://www.jurnalpe rempuan.com/ yjp.jpo/? act=agenda% 7C-64%7CX

Kamis, 29 Mei 2008 pukul 14.00 WIB,
Pemutaran Film
Yayasan Jurnal Perempuan & Kalyanashira Foundation Kamis 29 Mei 2008, Jl Tebet Barat VIII No 27 Jakarta Pukul 14.00 – 15.00 WIB
Pemutaran Film “Perempuan, Kisah di Balik Guntingan”, sebuah film dokumenter berdurasi 57 menit karya Ucu Agustin, film ini merupakan behind the scene film “Perempuan Punya Cerita”.
DISKUSI
Pukul 15.00 – 16.30 WIB Diskusi “Demokrasi dan Sensor” Pembicara Ignatius Haryanto (Lembaga Studi Pers dan Pembangunan) Nia Dinata (Sineas dan Masyarakat Film Indonesia) Moderator: Olin Monteiro
Diskusi “Demokrasi dan Sensor” ini ingin melanjutkan diskusi Yayasan Jurnal Perempuan sebelumnya “Demokrasi Feminis” dan “Demokrasi dan Hak-hak Seksual” yang bertujuan menguji kembali demokrasi di negeri ini. Sasaran diskusi yang pertama adalah demokrasi yang hanya (di)identik( an) berasal dari suara mayoritas; demokrasi untuk legitimasi sebuah kekuasaan. Di sinilah peran “demokrasi feminis” yang berasas pada kepedulian dan keberpihakan pada minoritas.
Dalam diskusi “Demokrasi dan Hak-hak Seksual” kita dikenalkan pada “queer politics”. Dalam ranah ini bagaimana demokrasi menerima pilihan privat orientasi seksual individu (lesbian, gay, bisexual, transeksual/ transgender, intersex, queer), sehingga praktek kewarganegaraan tidak lagi bersikap diskriminatif terhadap kelompok ini. Atau lebih tepat: bagaimana demokrasi memperkaya konsep partisipasi politiknya dengan mengenali relasi-relasi kehidupan yang dinilai abnormal itu.
Nah, dalam “Demokrasi dan Sensor” ini, kami ingin menguji bagaimana sensor—yang dulu identik dengan praktik kekuasaan yang otoriter—namun dalam tatanan politik yang demokratis sekarang ini tidak ikut runtuh bersama runtuhnya rejim yang otoriter itu? Apakah bisa dikatakan “sensor” justeru diperlukan untuk menjaga demokrasi? Fenomena ini juga tampak saat ini, sensor yang dulu berasal dari rejim Orde Baru, sekarang sekelompok masyarakat bisa terlibat dalam proses penyensoran. Pun permohonan Masyarakat Film Indonesia (MFI) untuk pengujian materi hukum Lembaga Sensor Film (LSF) ditolak oleh Mahkamah Konstitusi yang tugasnya mengawal Konstitusi negeri ini.
Fenomena yang paradoks ini, antara “Demokrasi dan Sensor” akan menjadi bahasan Ignatius Haryanto, penyunting buku “Ketika Sensor Tak Mati-Mati, Kalam, 2007, sementara Nia Dinata akan mengulas bahaya dan ancaman sensor terhadap kebebasan berekspresi dan kreativitas seni.
Terimakasih atas perhatian Ibu dan Bapak Sekalian
Hormat Kami,
Jurnal Perempuan Jl. Tebet Barat VIII No 27, Jakarta Telp: 021-83702005 E-mail: nunung@jurnalperemp uan.com azizah@jurnalperemp uan.com, Hp.081806488463

Peace Women Across the Globe & Kineforum DKJ

mengundang anda hadir pada:

Pemutaran film jaringan Perempuan Perdamaian (Peace Women Across the Globe)

21 – 27 April 2008

Jam 14.00, jam 17.30 & jam 19.00

di Studio 1, Kineforum, Bioskop di TIM, Cikini Raya, Jakarta Pusat

untuk detail film yang diputar:

http://1000peacewomenindonesia.blogspot.com

Diskusi:

21 April 2008

jam. 15.30

Ngobrol bareng: Sr. Brigitta Renyaan, Peace Women dari Ambon

25 April 2008

jam 15.30

Ngobrol bareng: Kamala Chandrakirana (Ketua Komnas Perempuan) & Andi (producer Tala Bai)

Kami mengharapkan kehadiran rekan-rekan semua dan mohon memforward email ini kepada jaringan anda.

Kontak Panitia:

Sandie: 0817-669 4913

Ita: 0818 – 831115

Atau email kami: indonesia1000peacewomen@yahoo.com

Terimakasih banyak atas perhatiannya.
Salam,
Olin Monteiro
Koordinator Peace Women Across the Globe (PWAG)

Dear Teman-teman sekalian,
Berikut ini agenda terdekat Komunitas Historia Indonesia. Mohon disebarluaskan ke teman-teman yang lain ya. Mohon maaf jika kurang berkenan. O ya, abaikan saja jika tidak diperlukan.
Terima kasih atas kebaikan dan bantuan Anda semua.
Salam lestari,
Asep Kambali [0818.0807.3636]
Komunitas Historia Indonesia

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _________ __

Jakarta Night Trail
WISATA MALAM KOTA TUA JAKARTA
Menguak sejarah kota di kegelapan, menelusuri jejak tersembunyi di dalam gedung tua!

Sabtu, 26 April 2008. Pukul 19.00-24.00 wib.
Kumpul di Museum Bank Mandiri Jl. Lapangan Stasiun No.1 Jakarta Barat 11110
(Depan Stasiun Bus Transjakarta Kota)

NARA SUMBER
Asep Kambali (Sejarawan) (lagi…)

Kedutaan Besar Swiss, Kedutaan Besar Kanada, Kedutaan Besar Belgia, Kedutaan Besar Prancis – CCF Jakarta dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia mempersembahkan :
LA SEMAINE DE LA FRANCOPHONIE 2008 à JAKARTA
PEKAN FRANKOFONI 2008 di JAKARTA

17 > 22 Maret 2008
Pemutaran film negara-negara frankofon, pameran “Kolase-kolase mengenai Frankofoni”, bazar makanan, berbagai diskusi serta tatap muka…
di

Pusat Studi Jepang (PSJ) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok
Gedung IX, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok
Sinema CCF / Pusat Kebudayaan Prancis Jakarta, Jl. Salemba Raya 25, Jakarta Pusat
Ada sekitar 200 juta orang di lima benua yang berbahasa Prancis. Bersama bahasa Inggris, bahasa Prancis merupakan salah satu dari dua bahasa yang digunakan di seluruh benua. Berdasarkan penggunaan bahasa inilah, gerakan para penutur bahasa Prancis melahirkan sebuah Organisasi Frankofoni Mancanegara dengan 55 negara anggota dan 13 negara pengamat. Keanekaragaman budaya dan solidaritas menjadi tema-tema utama dari Frankofoni.

JADWAL FILM

(lagi…)

Penyelenggara: Jaringan Islam Liberal

Tempat: Komunitas Utan Kayu, Jl Utan Kayu 68H Jakarta Timur

Waktu: Jadwal Terlampir

Kontak dan informasi: Ade (021-8573388 ext. 128)

Jadwal Pemutaran Film dan Diskusi

HARI PERTAMA, SENIN, 17 MARET 2008
Pemutaran Film : 16.00 : Goya’s Ghost
Diskusi : 19.00
Tema : “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Perspektif Agama-Agama”
Narasumber : KH Husein Muhammad (Islam), Martin Lukito Sinaga (Protestan), Frans Magnis Suseno (Katolik)
Moderator : Syafiq Hasyim (ICIP)
Kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah hak yang dijamin bukan hanya oleh UUD 1945, melainkan juga oleh agama-agama. Ia telah menjadi misi abadi para nabi, mulai dari Ibrahim, Musa, Isa, hingga Muhammad. Karena itu, tak boleh ada satu pihak atau institusi manapun yang dapat merampas hak tersebut. Alquran dengan tegas berkata, la ikraha fi al-din (tidak ada paksaan dalam perkara agama). Para ulama tafsir menetapkan ayat tersebut sebgai ayat fondasional yang mendasari bangunan Islam. Setiap ayat dalam Alquran harus selalu berada dalam kontrol dan sinaran etik-moral ayat fondasional. Dengan demikian, sekiranya ada ayat Alquran yang secara harfiah berseberangan dengan semangat kebebasan beragama dan berkeyakinan, maka ia seharusnya bisa ditaklukkan. Namun, dalam kasus Islam, sebagian ulama masih berpendirian bahwa kebebasan beragama itu bertentangan dengan Islam.

HARI KEDUA, SELASA, 18 MARET 2008
Pemutaran Film : 16.00 : The Kite Runner
Diskusi : 19.00
Tema : “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Perspektif Legal-Formal”
Narasumber : Adnan Buyung Nasution (Penasehat Presiden), Nono Anwar Makarim (Ketua Yayasan Aksara), dan Uli Parulian (Direktur ILRC)
Moderator : Trisno S. Sutanto (MADIA)
Dalam konteks ke-Indonesia-an, jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan itu tertuang dalam pasal 28 E ayat (2) UUD 1945. Jaminan kebebasan beragama juga telah menjadi tuntutan internasional, sebagaimana tertuang dalam ICCPR. Indonesia telah meratifikasinya melalui UU No. 12 tahun 2005 tentang Pengesahan ICCPR. Dengan demikian, Indonesia adalah salah satu negara yang terikat dengan kandungan ICCPR tersebut. Indonesia juga sudah memiliki UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang memberi pendasaran normatif dan legal-formal bahwa agama dan keyakinan merupakan hak dasar yang tak bisa diganggu gugat. Tantangannya adalah adanya sejumlah produk perundangan-undangan lama yang menyandera kebebasan beragama, misalnya belum dicabutnya UU No. 1/PNPS/1965 yang memuat larangan aktivitas penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama. Dalam penjelasan undang-undang ini disebutkan, yang memiliki kewenangan untuk memutuskan suatu tafsir dan ritus peribadatan sudah menyimpang adalah Departemen Agama.

HARI KETIGA, RABU, 19 MARET 2008
PENTAS KEBEBASAN BERAGAMA & BERKEYAKINAN