Kisah ini dimulai pada abad di mana Raja Dinasti Kuru, keturunan ras bulan, memerintah kerajaan Hastinapura. Shantanu, putra Praterpa adalah seorang raja yang besar. Dia telah menikahi Gangga. Gangga bersedia dan setuju menikah dengan Shantanu dengan bahwa Shantanu tidak boleh mengajukan pertanyaan apa pun tentang apa yang Gangga lakukan. Raja Shantanu pun berjanji untuk menaati syarat ini.

Gangga itu sangat cantik. Singkatnya, sebagai ratu dia sangat ideal. Shantanu dan Gangga juga sangat mencintai satu sama lain. Waktu berlalu sangat cepat. Hari dan bulan berlalu. Gangga dikaruniai seorang putra dan raja pun sukacita luar biasa. Ketika raja mengunjungi kamar ratu, para pelayan memberitahunya bahwa ratu telah pergi ke tepi sungai Gangga dengan anak baru lahir. Ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat dengan kengerian saat anak itu telah dilemparkan di Sungai Gangga oleh ratu. Tetapi karena terikat oleh janjinya, ia tidak bisa bertanya kepada Ratu Gangga, kenapa dia bertindak sedemikian rupa mengerikan. Dengan sangat terpukul, ia kembali ke istana dan memulai kehidupan dengan Ratu Gangga seperti biasa.Di tahun-tahun kemudian, Ganga melahirkan enam anak lagi dan melemparkan mereka semua di sungai Gangga. Raja merasa dirugikan atas tindakan Gangga dan juga kehilangan ketenangan pikirannya. Gangga hamil lagi, anak raja ke delapan dan keinginan Raja untuk mendapatkan pengganti sudah menjadi terlalu kuat. Dia terus mencermati ratu. Ketika anak lahir, ratu lagi berangkat tepi sungai. Raja menangkapnya dan memintanya untuk menyisakan anak itu. Tapi Gangga mengingatkan raja pada janjinya bahwa dia tidak akan pernah mempertanyakan tindakannya. Kali ini raja yang dilanda kesedihan tak bisa menahan diri dan mencegah Gangga ketika akan membuang anak kedelapannya di sungai Gangga.

Gangga mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi hidup dengan raja. Atas semua permohonan raja, ratu berkata, “Tuanku, saya adalah Gangga, Sang Sungai itu sendiri. Sekarang waktunya telah tiba bagi saya untuk pergi, langit dan dewa-dewa telah memutuskanbegitu.. Aku harus pergi.”

Raja dengan rasa kesedihan yang amat sangat meminta Gangga untuk tetap bersama dirinya, apalagi dengan semua cinta yang mereka rasakan satu sama lain. Dia sekali lagi memintanya untuk tinggal kembali. Kemudian Gangga dengan air mata di matanya menceritakan kisah anehnya.Dia berkata, “Saya adalah Gangga dan aku milik langit. Pada kelahiran sebelumnya, Anda adalah seorang raja besar bernama Mahabhisakh, dan di depan pelataran istana Dewa Indra Anda melihat dan jatuh cinta dengan saya. Saya juga demikian, sangat inginkan Anda menjadi suami saya. Akibatnya, para dewa marah dan mereka mengutuk aku dilahirkan di bumi dan menjadi istri Anda. Anak-anak yang lahir dari saya adalah para Vasu. Mereka yang juga dikutuk, untuk lahir di bumi. Mereka memohon saya untuk menjadi ibu mereka di sini dan meminta bahwa saya harus membunuh mereka di kelahiran mereka sehingga mereka bisa bebas dari kehidupan duniawi mereka di awal. Tujuh dari anak kita telah tewas dan menjadi bebas dari kutukan mereka. Tapi Vasu ke delapan akan menghabiskan waktu lebih lama di bumi sesuai dengan kutukan. Karena itu, ia telah diizinkan untuk hidup. Jangan bersedih Tuanku, ketetapan dari dewa tidak bisa dibatalkan.”

Dia berkata lagi, “Tuanku telah mengijinkan saya untuk mengambil anak ini, maka saya akan mengambil resikonya, dan menjaga segala kemungkinan agar dia dan nanti pada waktu yang tepat akan aku kembalikan ke Anda nanti. Dia akan menjadi penerus yang layak ke tahta besar Pauravas. Ia akan menjadi yang terbesar di antara semua Pauravas yang telah menghiasi tahta raja-raja dari ras bulan.

Setelah mengatakan hal-hal ini Ganga meninggalkan raja dan pergi membawa serta anaknya. Raja Shantanu dilanda kesepian, kesedihan, dan patah semangat serta patah hati.

Bersambung – 16 Tahun Kemudian