JAKARTA—Saat  Juni mengenang Jakarta, hamparan peristiwa pernah terjadi. Ada darah dan semangat. 500 tahun yang lalu, Portugis berhasil direbut oleh Fatahillah. Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan”. Dan kini, kota itu begitu gagah, indah, serta begitu kompleks. Kita pun mengenalnya dengan nama Jakarta.

Satu abad kemudian, Juni juga bersaksi bahwa bangsa ini telah menyiapkan tonggak sejarah baru Negara Indonesia dengan lahirnya Pancasila. Di Jakarta, para pendiri bangsa berkumpul dan menetapkan lima dasar negara yang berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, berpermusyawaratan, dan berkeadilan.

“Djikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak mentekad-mati-matian untuk mentjapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan mendjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya sampai ke achir djaman,” ungkap Soekarno di akhir pidatonya pada 1 Juni 1945.

Semangat kata merebut kota, semangat kata untuk merdeka ini diperteguh oleh awak Sastra Reboan menjadi “Kota Kita: Kata” sebagai tema kegiatan Reboan hari rabu (24/6) mendatang di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan Jakarta Selatan.

Kepala Suku Reboan, Yohannes Sugianto mengatakan bahwa Reboan yang keempat belas ini akan membedah dua karya sastra yang bernuansa Jakarta. Dua buku tersebut adalah antologi puisi “Sirami Jakarta Dengan Cinta” karya Gemi Mohawk dan sebuah novel berjudul “Metropolis” karya Windry Ramadhina.

“Melalui kegiatan sastra Reboan ini, kita ingin mengajak masyarakat khususnya masyarakat Jakarta dan sekitarnya untuk merefleksikan kehidupan sehari-hari melalui karya sastra. Dan kedua buku ini amat tepat sebagai alat untuk bercermin bagaimana kehidupan di Jakarta,” kata Yohannes.

Selain itu, lanjut Yo, dalam kegiatan Reboan ini di samping akan diisi dengan pembacaan puisi, diskusi tips menulis cerpen, juga pementasan musik. Kemasan acara ini dimaksudkan untuk mendekatkan sastra pada masyarakat secara ringan dan tidak menegangkan, sebagaimana semangat yang diusung oleh Sastra Reboan ini.

Menurut rencana dalam acara Reboan ini, Ashar Junandar Nasution, yang dikenal dengan nama blalang_kupukupu ini,  juga memperkenalkan buku kumpulan puisinya yang baru. Untuk tips penulisan cerpen dalam kesempatan ini, menurut penggagas Reboan ini, akan diberikan oleh cerpenis pemenang Khatulistiwa Literary Award 2008, Wa Ode Wulan Ratna.

Sedangkan untuk meregangkan kepenatan peserta Reboan ini, menurut Yo, penonton akan dihibur oleh dua kelompok band, yaitu Band Sounerie, sebuah kelompok band yang melantunkan lagu-lagu jazz dan Band Bintang Sembilan dari Ciputat. “Dengan format acara yang berimbang, kita berharap kegiatan dan pesan sastra seperti ini akan sampai pada masyarakat bahwa sastra tidak harus dinikmati secara berat dan bisa menyentuh semua kalangan. Dan dalam kepengapan serta kebisingan kota Jakarta ini kita juga ingin masyarakat tetap tenang dalam sebuah kota yang bernama Kata,” tegasnya.