Enam belas tahun berlalu. Raja Shantanu, sangat gemar pergi ke hutan untuk berburu, Setelah, itu dia melihat pemandangan yang mengagumkan. Seorang pemuda telah membuat bendungan dari panah dan aliran Gangga telah dibendung. Sementara raja mengagumi keterampilan luar biasa pemuda, Gangga muncul dari air dan berbicara kepada raja, “Ya Tuanku, pemuda ini anak kita. Ia telah menerima pendidikan terbaik dan dia sekarang seorang pangeran layak untuk penerus tahta Hastinapura Dia. belajar ilmu politik dari Brhiaspati, guru para dewa, Veda dan Vedangas dari Sage Vasistha, Bhargava (juga disebut Parasurama) telah mengajarinya memanah.

Lalu ia berkata kepada pemuda itu untuk menyentuh kaki ayahnya, Shantanu. Raja gembira kembali ke istana dan menyatakan kabar baik kepada semua rakyatnya. Dia menyatakan bahwa anaknya, yang bernama Devavrata, akan menjadi putra mahkota.

Devavrata membuktikan dirinya sebagai model yang ideal bagi seorang anak dan pangeran. Ia memenangkan hati semua orang. Raja sebagai seorang ayah sangat suka terhadapnya. Selama empat tahun, mereka tinggal dalam kebahagiaan yang sempurna.

Suatu hari, lagi Raja pergi berburu di sebuah hutan di tepi sungai Yamuna. Tiba-tiba dia mencium aroma seorang dewi yang sangat harum. Setelah mendaki bukit, sampailah ia di tepi sungai dan melihat seorang wanita yang sangat cantik yang sedang mengikat perahunya. Raja pun jatuh cinta pandangan pertama kepadanya.

Setelah bertanya tentang namanya dan nama ayahnya, ia pun mendekati ayah perempuan itu, seorang kepala nelayan. Nama wanita itu Satyavati. Kepadanya ayah Satyavati, Raja meminta untuk dapat mengawininya. Nelayan itu menjawab bahwa putrinya hanya bisa menikah raja jika ia setuju bahwa anak yang lahir dari putrinya akan mewarisi takhta. Raja tidak dapat menyetujui syarat ini. Ia tidak bisa melakukan seperti ketidakadilan yang besar untuk anaknya Devavrata. Dia pulang ke istana. Tetapi ia menjadi sangat sedih dan murung dan kehilangan semua minat dalam pengaturan kerajaan.

Perubahan perilaku raja tersebut sudah diketahui oleh semua orang dan Devavrata menjadi sangat prihatin. Dia mencari tahu dari kusir raja apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Sang Raja. Akhirnya ia pergi ke nelayan dan memintanya untuk menyetujui pernikahan putrinya kepada ayahnya. Nelayan mengulangi persyaratan yang pernah diutarakan, dan Devavrata memastikan bahwa anak lahir dari Satyavati akan menjadi raja menggantikan ayahnya. Nelayan belum yakin. Dia berkata, “Saya percaya sepenuhnya pada kamu dan apa yang Anda katakan. Tapi bagaimana dengan putra-putramu nanti? mereka bisa saja melakukan klaim bahwa seharusnya merekalah yang memiliki takhta itu.”

Devavrata bersumpah yang dahsyat yaitu dia tidak akan menikah sehingga situasi seperti yang dipikirkan Sang Nelayan tidak akan pernah terjadi. Bumi dan langit bergema atas sumpah yang dahsyat itu dan terdengarlah suara “Bisma! Bisma!” bergema di seluruh langit dan bumi. Sejak saat itu, Devavrata dikenal sebagai “Bisma.”

Sang Nelayan akhirnya menyetujui lamaran pernikahan. Bisma bersama dengan ibu barunya Satyavati kembali ke istana dan menceritakan hal-hal ini kepada ayahnya. Raja Shantanu merasa sukacita luar biasa tetapi juga menjadi sangat sedih menyadari betapa besar pengorbanan Bisma, anaknya. Dengan suara gemetar dan mata penuh air mata ia memberi Bisma sebuah anugerah yaitu Bisma hanya bisa mati jika Bisma menginginkan kematian itu. Jadi, kematianlah yang harus menunggu keinginan Bisma. Sang Raja menggunakan segala akumulasi penebusan dosanya untuk dapat memberikan anugerah ini kepada anaknya.

Perkawinan antara Satyavati dan Shantanu dianugerahi dua orang anak, yaitu Chitrangada dan Vichitravirya. Setelah bertahun-tahun, raja pun tua dan meninggal. Sementara anak-anaknya beranjak besar. Akan tetapi, Pangeran Chitrangada dinilai masih terlalu muda untuk mengatur kerajaan jadi, Bisma bertindak sebagai seorang kepala pemerintahan.

Setelah bertahun berlalu, terjadilah sebuah tragedi. Ada seorang raja Ghandharva yang punya nama yang sama dengan Pangeran Chitrangada. Dia sangat tidak suka ada orang lain yang bernama sama dengannya. Jadi dia menantang pangeran untuk berkelahi dan dalam perkelahian itu, Gandharva berhasil membunuh Pangeran Chitrangada.

Sepeninggal Chitrangada, Vichitravirya dinobatkan sebagai raja dan Bisma tetap bertindak sebagai kepala pemerintahan. Rakyat di Hastinapura sangat senang di bawah kekuasaan Bisma.

Bersambung

UNDANGAN:
“Bincang Sastra bersama Nh. Dini”

RUMAH SENI YAITU:
Kampung Jambe 280

Semarang 50124
Telp. 024-8414892
Hari: Minggu, 2 Maret 2008
Jam: 18.30 WIB
Pembicara: Nh. Dini
Moderator: G.M. Adhyanggono (Unika Soegijapranata)

Bincang-bincang bersama Nh. Dini ini dirancang berdasar
alasan, antara lain, membangun silaturahmi dan mengenal
lebih dekat sosok perempuan penulis kelahiran Semarang
ini. Masih dalam suasana ulang tahunnya yang ke-72
Nh. Dini juga akan membincangkan buku terbarunya,
“Argenteuil” yang diterbitkan oleh Gramedia.

Bagaimana dan dari mana Dini mengail inspirasinya?
Bagaimana Dini menjaga api kreativitasnya?
Diskusi untuk umum dan gratis.

Strategic partners:
Yayasan Widya Mitra
Handoko Art
Importal

Media partners:
FeMale Radio

Prambors Radio

 Kisah ini dimulai pada abad di mana Raja Dinasti Kuru, keturunan ras bulan, memerintah kerajaan Hastinapura. Shantanu, putra Praterpa adalah seorang raja yang besar. Dia telah menikahi Gangga. Gangga bersedia dan setuju menikah dengan Shantanu dengan bahwa Shantanu tidak boleh mengajukan pertanyaan apa pun tentang apa yang Gangga lakukan. Raja Shantanu pun berjanji untuk menaati syarat ini.

Gangga itu sangat cantik. Singkatnya, sebagai ratu dia sangat ideal. Shantanu dan Gangga juga sangat mencintai satu sama lain. Waktu berlalu sangat cepat. Hari dan bulan berlalu. Gangga dikaruniai seorang putra dan raja pun sukacita luar biasa. Ketika raja mengunjungi kamar ratu, para pelayan memberitahunya bahwa ratu telah pergi ke tepi sungai Gangga dengan anak baru lahir. Ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat dengan kengerian saat anak itu telah dilemparkan di Sungai Gangga oleh ratu. Tetapi karena terikat oleh janjinya, ia tidak bisa bertanya kepada Ratu Gangga, kenapa dia bertindak sedemikian rupa mengerikan. Dengan sangat terpukul, ia kembali ke istana dan memulai kehidupan dengan Ratu Gangga seperti biasa.Di tahun-tahun kemudian, Ganga melahirkan enam anak lagi dan melemparkan mereka semua di sungai Gangga. Raja merasa dirugikan atas tindakan Gangga dan juga kehilangan ketenangan pikirannya. Gangga hamil lagi, anak raja ke delapan dan keinginan Raja untuk mendapatkan pengganti sudah menjadi terlalu kuat. Dia terus mencermati ratu. Ketika anak lahir, ratu lagi berangkat tepi sungai. Raja menangkapnya dan memintanya untuk menyisakan anak itu. Tapi Gangga mengingatkan raja pada janjinya bahwa dia tidak akan pernah mempertanyakan tindakannya. Kali ini raja yang dilanda kesedihan tak bisa menahan diri dan mencegah Gangga ketika akan membuang anak kedelapannya di sungai Gangga.

Gangga mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi hidup dengan raja. Atas semua permohonan raja, ratu berkata, “Tuanku, saya adalah Gangga, Sang Sungai itu sendiri. Sekarang waktunya telah tiba bagi saya untuk pergi, langit dan dewa-dewa telah memutuskanbegitu.. Aku harus pergi.”

Raja dengan rasa kesedihan yang amat sangat meminta Gangga untuk tetap bersama dirinya, apalagi dengan semua cinta yang mereka rasakan satu sama lain. Dia sekali lagi memintanya untuk tinggal kembali. Kemudian Gangga dengan air mata di matanya menceritakan kisah anehnya.Dia berkata, “Saya adalah Gangga dan aku milik langit. Pada kelahiran sebelumnya, Anda adalah seorang raja besar bernama Mahabhisakh, dan di depan pelataran istana Dewa Indra Anda melihat dan jatuh cinta dengan saya. Saya juga demikian, sangat inginkan Anda menjadi suami saya. Akibatnya, para dewa marah dan mereka mengutuk aku dilahirkan di bumi dan menjadi istri Anda. Anak-anak yang lahir dari saya adalah para Vasu. Mereka yang juga dikutuk, untuk lahir di bumi. Mereka memohon saya untuk menjadi ibu mereka di sini dan meminta bahwa saya harus membunuh mereka di kelahiran mereka sehingga mereka bisa bebas dari kehidupan duniawi mereka di awal. Tujuh dari anak kita telah tewas dan menjadi bebas dari kutukan mereka. Tapi Vasu ke delapan akan menghabiskan waktu lebih lama di bumi sesuai dengan kutukan. Karena itu, ia telah diizinkan untuk hidup. Jangan bersedih Tuanku, ketetapan dari dewa tidak bisa dibatalkan.”

Dia berkata lagi, “Tuanku telah mengijinkan saya untuk mengambil anak ini, maka saya akan mengambil resikonya, dan menjaga segala kemungkinan agar dia dan nanti pada waktu yang tepat akan aku kembalikan ke Anda nanti. Dia akan menjadi penerus yang layak ke tahta besar Pauravas. Ia akan menjadi yang terbesar di antara semua Pauravas yang telah menghiasi tahta raja-raja dari ras bulan.

Setelah mengatakan hal-hal ini Ganga meninggalkan raja dan pergi membawa serta anaknya. Raja Shantanu dilanda kesepian, kesedihan, dan patah semangat serta patah hati.

Bersambung – 16 Tahun Kemudian

BUMIPUTERA Menulis 2009 yang digelar sepanjang April-Mei-Juni 2009 usai sudah. Pemenang kompetisi penulisan “Cerita Pendek” dan “Esai” dalam rangka memperingati 97 Tahun Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, telah diumumkan pada Selasa, 1 September 2009, di lantai 22 Wisma Bumiputera, Jakarta.
(lagi…)

Banyak peristiwa yang bisa diperingati, ditulis atau sekadar disebut dalam bulan Juli ini. Semisal Hari Anak, Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Pemilu Capres & Cawapres, Kembalinya negara pada UUD 1945 pada masa Soekarno, atau peristiwa bersejarah pendaratan manusia pertama kali di bulan. Tentu yang masih hangat dan lekat dalam ingatan adalah tragedi bom bunuh diri di Rits-Carlton dan JW Marriot di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 17 Juli 2009. Tragedi yang membuat Manchester United urung datang, dan para penggemarnya larut dalam murung panjang.

Berbagai kejadian itu, yang bisa kita tambahkan lagi, tetaplah merupakan cermin bagi semuanya untuk melihat diri sendiri, sembari menengok apa yang telah berlalu di hari lalu. Apakah yang telah berubah dari sekian banyak peristiwa bagi diri sendiri?

Dari situlah, dalam Sastra Reboan kali ini kita mencoba merujuk kembali yang telah terjadi, lewat kehadiran karya-karya sastra dan seni yang merupakan titik awal bagi para penulis atau pemusiknya. Bagi mereka, Juli merupakan catatan tersendiri karena dari situ ia mencatatkan dirinya (setidaknya mempunyai prasasti pribadi) sebagai seorang penyair, novelis atau grup musik. Pengguratan diri itu mereka tampilkan di Sastra Reboan sebagai pilihan panggung mereka.

Sosok Kirana Kejora, ibu dua anak yang telah menelorkan dua kumpulan puisinya ini, menawarkan novelnya yang kedua berjudul “Elang” yang dikerjakannya lebih dari dua tahun. “Di sini ada pergulatan anak manusia yang juga menjadi cermin bagi orang lain”, tuturnya. Novel tentang perseteruan Elang Kembar, ilmuwan vs penyair ini akan dibedah oleh penyair Handoko F.Zainsam dan dipandu oleh Reporter Guest Trans 7, Rieska Arbi. Aktor, pemain drama dan penyair. Ikranegara akan membacakan petikan novel “Elang” ini.

Pergulatan itu juga ada pada diri Pringadi Abdi, pemuda yang kadung jatuh cinta pada puisi, dengan kumpulan puisinya “Alusi” yang diberi kata pengantar oleh Khrisna Pabicara. “Ini uji nyali bagi saya, apakah karya yang terpendam di dada dan kepala lalu menjadi kata-kata akan diterima oleh pembaca. Buku ini merupakan sejarah bagi saya,” katanya beberapa hari sebelum karyanya itu masuk cetak.

Dari dunia seni ada 4 bocah yang menamakan dirinya Empadband dari Surabaya, yang baru masuk dapur rekaman dan menghasilkan album “Experiment”. Mereka ingin meluncurkan album perdana ini di Sastra Reboan, yang konon mereka dengar dari seorang penyair. “Semoga kehadiran Empadband memberi warna tersendiri bagi dunia musik anak-anak dan remaja,”ujar Dida (11 th),cewek satu- satunya yang menjadi vokalis Empadband. Personil lainnya adalah Diva (11) sebagai drummer, Maldy (13, Guitar) dan Yoga (12, bass).

Grup lainnya yang akan tampil adalah Coffee Break dengan komandannya Bung Kelinci.

Pembacaan puisi kali ini menampilkan Kirana Kejora yang diiringi oleh violis cilik Bagus Pratama, yang tampil memukau di “Sastra Reboan Saba Kota” saat berlangsung World Book Day di Museum Mandiri beberapa waktulalu. Sedangkan beberapa penyair lainnya akan membawakan puisi karya Pringadi Abdi.

Semoga ada pantulan cermin yang dibawa oleh pengunjung Sastra Reboan nanti.

Sila untuk menikmati kata-kata dan musik pada :

Rabu, 29 Juli 2009
mulai pk.19.00
di Warung Apresiasi, Bulungan Jakarta Selatan.

Salam Reboan,

Dedy – Nina

 

JAKARTA—Saat Juni mengenang Jakarta, hamparan peristiwa pernah terjadi. Ada darah dan semangat. 500 tahun yang lalu, Portugis berhasil direbut oleh Fatahillah. Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan”. Dan kini, kota itu begitu gagah, indah, serta begitu kompleks. Kita pun mengenalnya dengan nama Jakarta.

Satu abad kemudian, Juni juga bersaksi bahwa bangsa ini telah menyiapkan tonggak sejarah baru Negara Indonesia dengan lahirnya Pancasila. Di Jakarta, para pendiri bangsa berkumpul dan menetapkan lima dasar negara yang berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, berpermusyawaratan, dan berkeadilan.

“Djikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak mentekad-mati-matian untuk mentjapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan mendjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya sampai ke achir djaman,” ungkap Soekarno di akhir pidatonya pada 1 Juni 1945.

Semangat kata merebut kota, semangat kata untuk merdeka ini diperteguh oleh awak Sastra Reboan menjadi “Kota Kita: Kata” sebagai tema kegiatan Reboan hari rabu (24/6) mendatang di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan Jakarta Selatan.

(lagi…)

 

JAKARTA—Saat  Juni mengenang Jakarta, hamparan peristiwa pernah terjadi. Ada darah dan semangat. 500 tahun yang lalu, Portugis berhasil direbut oleh Fatahillah. Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan”. Dan kini, kota itu begitu gagah, indah, serta begitu kompleks. Kita pun mengenalnya dengan nama Jakarta.

Satu abad kemudian, Juni juga bersaksi bahwa bangsa ini telah menyiapkan tonggak sejarah baru Negara Indonesia dengan lahirnya Pancasila. Di Jakarta, para pendiri bangsa berkumpul dan menetapkan lima dasar negara yang berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, berpermusyawaratan, dan berkeadilan.

“Djikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak mentekad-mati-matian untuk mentjapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan mendjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya sampai ke achir djaman,” ungkap Soekarno di akhir pidatonya pada 1 Juni 1945.

Semangat kata merebut kota, semangat kata untuk merdeka ini diperteguh oleh awak Sastra Reboan menjadi “Kota Kita: Kata” sebagai tema kegiatan Reboan hari rabu (24/6) mendatang di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan Jakarta Selatan.

(lagi…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.